Jumat, 17 April 2015

Bertemu Islam di Jepang





Ungkapan yang menggelitik di video ini, "honestly, I found Islam in Japan But Japan is not Muslim country. However, in other countries, we are Muslims but we don't find Islam."
Pada tahun 2013 yang lalu saya sempat "nyempal" ke Jepang lewat program Jenesys, yaitu program pemerintah jepang untuk mengenalkan kultur budayanya dan mengajak masyarakat ASEAN untuk mengglobal.
Pada waktu itu saya sempat bertandang ke salah satu pabrik honda. Disana sempat sedikit belajar tentang proses kanban. Proses kanban ini biasa diterapkan dalam industri manufaktur, di industri teknologi informasi proses ini juga dikenal dalam keilmuan rekayasa perangkat lunak (software engineering) dan termasuk salah satu 'madzhab' dalam agile programming.
Dasar dari konsep kanban ini adalah bagaimana suatu proses dapat berkembang dengan lebih baik secara terus menerus (continuous development). Peningkatan ini tidak harus besar tapi yang penting berkesinambungan.
Di sana dijelaskan saat pembuatan produk, setiap pegawai melakukan analisa terhadap apa yang dikerjakan dan mencari celah untuk peningkatan efektivitas dan efisiensi pengerjaan, dengan ini waktu yang dibutuhkan untuk pengerjaan satu mobil bisa terkurangi sedikit demi sedikit. Dengan misal contoh: waktu pemasangan kaca terkurangi satu menit, pemasangan kursi terpangkas dua menit, dll. Secara mandiri mungkin tidak terasa tapi pada saat sudah terkumpul, waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan akan terkurangi dengan maksimal.
Dalam islam konsep kanban ini sebenarnya sudah tidak asing. Dalam berperilaku keseharian kita bisa mengkategorikan waktu yang dalam untung, rugi, dan celaka. Orang yang beruntung adalah orang yang terus berkembang, orang yang rugi adalah orang yang stagnan, orang yang celaka adalah yang menurun kualitas pribadinya. Ketiga konsep tersebut berkorelasi dengan apik dalam proses kanban.
Pada saat disana saya juga berkenalan dengan sebuah peribahasa lokal yang berbunyi "Tatsu Tori Ato wo Nigasazu" dan memiliki translasi "Burung yang bodoh mengotori sarangnya sendiri". Peribahasa ini menunjukkan budaya jepang yang sangat menghargai kerapihan dan kebersihan. Salah satu contoh yang saya alami adalah saat makan di kantin, setiap kali selesai makan meja dibersihkan sendiri oleh pelanggannya dan perangkat makan dikumpulkan sendiri ke titik tertentu. Contoh lain saat akan melakukan pertemuan, ruangan yang digunakan biasa kosong, peserta yang mengikuti acara diminta untuk mengambil dan menata sendiri kursi lipat yang tersedia lalu saat selesai mengembalikannya ke tempat semula. Hal ini secara konsep juga tidak asing dalam islam dengan tuntunan "annadhofatu minal iimaan".
Sebagai santri sebenarnya ada banya lagi konsep yang pernah saya pelajari, seperti: "amar ma'fuf nahi munkar", "hubbul wathon", "rahmatan lil alamiin", dsb. Tapi dasar saya yang termasuk kategori santri 'koplak bin semprul wal suwal' (meskipun belum sampai taraf mugholadhoh mungkin hanya sampai mukhoffafah) kebanyakan dari hal-hal tersebut masih hanya sebatas wacana dan sering kali belum mengejawantah dalam dimensi perilaku.
Semoga kita yang pernah mempelajari berbagai konsep ini tidak hanya menjadikannya sebagai pengetahuan saja, tapi juga bisa mempraktikannya. Dan nantinya dapat menjadi orang yang tergolong "khoirunnas anfa'uhum linnas", yang memiliki makna sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat pada manusia yang lainnya, tidak hanya yang seiman tapi juga kepada semua orang yang masih termasuk manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar