Selasa, 02 Juni 2015
AyoMondok : Pendidikan karakter keislaman
Konsep pendidikan yang dianggap modern sekarang ini berkembang saat dimulainya industrialisasi. Pada saat itu pendidikan dirancang untuk mencetak para pekerja-pekerja yang akan mengoperasikan mesin. Seiring perkembangan zaman semakin banyak teknologi yang perlu dipelajari dan dasar pendidikan modern pun masih banyak yang belum berubah.
Pendidikan modern sekarang ini seakan melupakan kodrat manusia sebagai hamba dari sang pencipta. Padahal saat kodrat dilupakan maka jati diri kemanusiaannya akan hilang. Sehingga banyak yang memiliki ilmu setinggi langit tapi kehidupannya makin sulit. Ilmu kesehatan berkembang dengan hebat tapi ragam penyakit juga semakin meningkat pesat.
Dalam dunia pesantren diajarkan bahwa segala sesuatu yang ada memiliki tujuan yang satu. Dari makan, sekolah, bekerja, dan sebagainya hanyalah dialektika dalam kehidupan untuk taqorrub kepada sang maha pencipta. Pesantren memberikan pemahaman akan apa sebenarnya yang seharusnya dicari dalam kehidupan. Saat mencari ilmu tidak hanya sekedar mengejar keilmuan belaka (knowledge for the sake of knowledge), tapi menimba ilmu yang nantinya memberikan keberkahan baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Pendidikan dalam pondok pesantren lebih mengedepankan pembangunan kepribadian dalam diri santri-santrinya agar menjadi manusia yang paripurna. Tidak hanya pencapaian dunia yang dicari tapi kepada hakikat pencariannya. Sehingga saat diperoleh suatu pencapaian keilmuan, derajat sosial, harta benda, dll tidak lantas menjadikan pribadi yang lupa daratan tapi sanggup menggunakannya untuk kemaslahatan.
Di pesantren juga tidak hanya pendidikan yang dikedepankan berbagai pengalaman dan cerita juga akan diperoleh, dari cerita yang seru, saru, hingga haru. Seperti pengalaman membantu kawan yang kesurupan, penyembunyian handuk waktu mandi yang bikin muka merah padam, hingga kisah perpisahan yang membuat hati remuk redam. Semua kisah dan pengalaman yang menyertai masa nyantri tentu tidak akan terlupakan dan memiliki tempatnya sendiri dalam menempa pribadi diri.
Dengan masuk pesantren juga terhindar dengan berbagai gejolak arus zaman, seperti misal fenomena sosial: cabe-cabean, terong-terongan, dll. Meski di pondok juga tidak bisa jauh dari cabe dan terong yang diolah jadi sambel terong. Apalagi mondok di daerah peterongan kalau menulis alamat lupa tidak diberi kata terong ya pasti kesasar.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar