Senin, 17 Agustus 2015

Cinta Tanah Air (Versi Saya)

‘Hubbul wathon minal Iman’ adalah sebuah adagium yang digelorakan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari di Tebuireng pada masa-masa perjuangan kemerdekaan. Nasionalisme merupakan suatu hal yang wajib dimiliki oleh para santri, muslimin dan muslimat yang bertumbuh dari negeri yang dipijaknya.
Negara yang menaungi warganya wajib ada untuk kemaslahatan bersama. Tanah air nusantara sebenarnya telah ada sebelum 17 Agustus 1945. Tapi pada titik zaman tersebut terjadi sebuah proses pembentukan bangsa negara yang menjadi pijakan kita sebagai turunan sejarah.
Mungkin Indonesia dari nusantara ini bisa dianalogikan dengan pembentukan intan dari (mineral-mineral) karbon. Zat-zat karbon dapat kita temui dengan mudah di alam bebas. Tapi tidak semuanya berbentuk intan yang mahal. Intan terbentuk setelah mineral-mineral yang menjadi zat dasar pembentuknya mengalami berbagai proses.
Manusia-manusia nusantara menjadi elemen-elemen kehidupan yang krusial dalam pembentukan bangsa. Lalu dengan katalis para masayikh, kiai, alim ulama, pahlawan pejuang kemerdekaan, dll. nusantara menjadi kristal yang indah bernama Indonesia.
Saat ini kristal Indonesia banyak buram di sana-sini, hal ini mungkin karena keadaan sosial yang memang sangat majemuk. Tapi seperti akik yang baru diolah dari bongkahan batu kasar, dengan berbagai proses ‘penggosokan’ maka keindahan Indonesia akan terlihat pada akhirnya. Oleh karena itu mari kita ‘gosok’ Indonesia ini dengan laku kebaikan, kerja yang produktif, pemikiran yang matang, serta kebersamaan yang damai agar Indonesia semakin terlihat cahaya kemilau indahnya.

Kamis, 16 Juli 2015

Workshop Pengembangan Game Unipdu (8 Juli 2015)



Minggu kemarin Rabu Tanggal 8 Juli, Fakultas Teknik Unipdu mengadakan workshop pengembangan game. Saya ditugasi sebagai pemateri dalam workshop ini. Dalam era sosmed dan teknologi seperti ini sangat sulit untuk lepas dari gadget dan perangkat TI (Teknologi Informasi) yang lain. Dunia teknologi sudah menyatu dengan kehidupan kita.

Rabu, 15 Juli 2015

Kodrat Pendidikan (1)

Saat ini saya ada dalam sebuah percabangan pilihan kehidupan, yaitu dalam memilih jalan untuk pendidikan yang akan saya ambil. Di sini saya ingin melakukan refleksi untuk menelisik dan menggali apa arti pendidikan bagi diri saya pribadi.

Kamis, 18 Juni 2015

Berpendapat Kebenaran

Keilmuan yang ada di dunia ini sangat luas, tidak terbatas dalam satu ranah tertentu saja. Mungkin bisa saja keilmuan dalam satu ranah diinterpolasi dengan yang lain mungkin juga tidak.

Seperti misal dalam keilmuan jaringan komputer ada yang dinamakan jaringan wired (dengan kabel) dan wireless (nirkabel). Dalam jaringan wired data akan ditransfer melalui kabel yang terlihat secara fisik sedangkan dalam jaringan wireless proses perpindahan data melalui media yang kasat mata.

Rabu, 10 Juni 2015

Pengalaman: Tahap Kedua Beasiswa LPDP

Alhamdulillah, hari ini mendapatkan kabar yang menggembirakan. Kabar yang akan menjadi titik perjalanan saya kedepan. Semoga saja ini adalah kabar kebaikan, karena yang tahu baik-buruknya kabar hanyalah yang maha menentukan. Hari ini saya mendapatkan kabar, bahwa saya lolos sebagai penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari pemerintah Indonesia (link).

Sabtu, 06 Juni 2015

Komoditas Waktu

Waktu adalah komoditas paling berharga yang dimiliki oleh setiap orang. Komoditas ini adalah satu-satunya yang tidak dapat dibeli dimanapun. Apabila suda terpakai maka tidak dapat dikembalikan lagi.

Penggunaannya tergantung dari pilihan orang yang menjalaninya. Dapat digunakan untuk kemanfaatan atau sebaliknya. Saat menyianyiakannya tidak ada yang rugi kecuali orang itu sendiri.

Lalu bagaimanakah menggunakan komoditas yang berharga ini?

Hal itu adalah sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh orang yang bersangkutan. Apa yang ingin dicapainya dalam kehidupan. Apakah ingin kehidupan dunia yang mapan, akhirat yang tenang, atau keduanya, kesemuanya dapat dipilih dan dilakukan.

Semoga saja diri kita menjadi orang yang dapat menggunakan komoditas ini dengan bijak. Karena saat komoditas ini sudah habis akan diminta pertanggung-jawaban akan penggunaannya, oleh yang telah menanam modal dalam kehidupan ini.

Jumat, 05 Juni 2015

Perlawanan Sejati

Kehidupan itu selalu dinamis tidak tentu apa yang terjadi esok hari, bisa sama dengan sekarang bisa juga berbeda. Saat ini bisa bergelimang kebaikan tapi besok hari tidak ada yang menjamin bahwa diri tidak akan berkubang dalam kenistaan.

Kehidupan ini dapat diibaratkan sebagai sebuah proses peperangan yang terus menerus. Perang terhadap keburukan dalam diri, dengan musuh nyata hawa nafsu angkara murka. Setiap hari adalah perlawanan dalam peperangan besar kehidupan. Mungkin saat ini kalah tapi tidak menutup kemungkinan besok bisa melawan dengan gegap gempita, pun sebaliknya juga sangat mungkin terjadi.

Saat hari telah berakhir kita dapat melihat apakah perlawanan ini menghasilkan kemenangan ataupun kekalahan. Ketika kemenangan diraih tentu tak lantas jumawa dan lupa daratan karena disitulah terdapat jurang jebakan kesombongan. Pula saat mendapati diri dalam kekalahan tentu tidak lantas berputus asa dalam keterpurukan tapi kita dapat memohon ampunan dan berharap hari esok yang dapat lebih baik.

Karena kehidupan yang tidak menentu ini maka setiap hari dan setiap waktu dianjurkan untuk terus memohon kebaikan. Proses perlawanan sejatinya tidak kita alami sendirian tapi setiap orang yang hidup juga menjalaninya. Saat kita mendapati orang yang berburuk dalam sikap, perlu kita doakan agar dapat memperbaikinya karena sejatinya dia sedang dalam kekalahan melawan syahwat penghasut.

Semoga kita selalu dapat menjalani proses peperangan ini dengan ikhlas dan mendapat kemenangan saat hayat dicabut. Sehingga diri ini dapat menemui penguasa segalanya sebagai pemenang dalam kehidupan.