Saat
ini saya ada dalam sebuah percabangan pilihan kehidupan, yaitu dalam memilih
jalan untuk pendidikan yang akan saya ambil. Di sini saya
ingin melakukan refleksi untuk menelisik dan menggali apa arti pendidikan bagi
diri saya pribadi.
Pendidikan untuk
kancah moderen seperti sekarang ini adalah sekolah formal berdasarkan unit-unit
assesment penilaian yang nantinya akan
dijadikan tolak ukur dalam bekerja. Konsep pendidikan seperti ini berdasarkan
pemahaman saya mulai terbentuk sejak revolusi industri yang ada di Inggris.
Tapi apakah konsep pendidikan ini adalah yang terbaik?
Banyak penelitian
yang mengangkat tema pendidikan dalam ranah yang tidak berdasarkan konsep
seperti di atas. Tapi mengarah kepada pengembangan pribadi dari si didikan
dengan konsep yang mungkin agak berbeda, seperti konsep unschooling, homeschool, sekolah alam, dll.
Hingga saat ini saya
telah mendapatkan pendidikan yang panjang (sekitar 20 tahun) baik dalam ranah
institusi modern dan 'tradisional'. Dalam ranah formal saya telah menempuh
sekolah dari Raudlatul Adhfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiya, Sekolah
Menengah Atas, Sarjana, hingga Magister. Dalam ranah "tradisional"
saya mengenyam pendidikan ngaji Al-quran di guru ngaji desa dan pondok
pesantren saat SMA. Selain itu saya juga mendapat pendidikan juga dalam ranah
informal terstruktur seperti les dan yang tidak terstruktur dalam ceramah,
workshop, seminar, dll.
Bagi saya pendidikan
modern dan tradisional serta terstruktur dan tidak terstruktur memiliki
tempatnya tersendiri. Tidak ada yang terbaik atau terjelek karena memang tujuan
akhir yang dicapai berbeda secara formal. Secara esensi kesemuanya memiliki
kesamaan yaitu untuk menambah keilmuan, entah dalam ranah apapun baik agama,
budaya, alam, teknologi, dll.
Dari
pendidikan-pendidikan tersebut ada banyak yang saya dapatkan. Secara fisik ada
beberapa yang memberikan bentuk pengakuan berupa sertifikat atau ijazah. Secara
moral pendidikan-pendidikan tersebut membentuk karakter saya hingga seperti
ini. Dalam sisi keilmuan saya memperoleh pengetahuan-pengetahuan. Untuk
keteladanan saya memperoleh contoh karakter guru, ustadz, dosen, kiai, dll. Dan
banyak lagi yang lainnya yang saya peroleh baik yang secara eksplisit terlihat
maupun implisit menyertai.
Lalu terbersit
sebuah untaian pemikiran yang menyertai semua itu, "Untuk apa?". Akan
ada banyak jawaban dalam berbagai sudut pandang akan hal tersebut. Seperti
misal dari sudut pandang pekerjaan, kemampuan, peningkatan diri, dan
sebagainya.
Muncul pula sesuatu
yang menggelitik dari diri saya pribadi. Semakin tinggi saya 'sekolah' semakin
banyak yang mengnggap bahwa saya pintar. Padahal saya sendiri merasa jauh dari
hal tersebut, banyak sekali kegagalan-kegagalan yang saya alami pada saat saya
menjalani dunia sekolah. Sehingga predikat pintar tidaklah pantas kalau
disematkan kepada pribadi saya.
Pula ada sesuatu
lain yang agaknya menohok untuk saya,
yaitu semakin jauhnya saya terhadap budaya saya sendiri. Sebagai orang jawa
banyak kebudayaan yang tersemat dalam diri pribadi saya. Tapi seiring
berjalannya waktu dalam saya 'sekolah' kebudayaan yang ada dalam diri saya
banyak yang luntur. Entah siapa atau apa yang "salah", bisa saja
karena saya atau masuknya saya dalam lingkungan budaya berbeda atau apa saya
juga kurang tahu. Terkadang karena kebiasaan saya yang ada di kota besar dulu,
banyak unggah-ungguh jawa yang
"lupa". Juga saat saya di pesantren unggah-ungguh
santri banyak yang terlewatkan dalam perilaku saya. Padahal hal yang seperti
ini adalah termasuk dalam adab, yang bagi saya posisinya adalah di atasnya
keilmuan.
Terkadang juga ada
pemikiran yang menyelinap dalam bawah sadar saya, yaitu meremehkan orang yang
tidak paham apa yang saya pahami. Hal ini sungguh pemikiran yang sangat sesat
bagi diri saya sendiri. Seharusnya dengan pendidikan yang semakin tinggi maka saya
seharusnya bisa memahami orang lain, bukan saya yang harus dipahami.
Dari berbagai wacana
tersebut apa yang menjadi puncak keaslian dalam proses pendidikan masih belum
benar-benar saya pahami secara sejati, sehingga kodrat dari pendidikan masih
belum rampung saya selami. Pernah mendapat wacana bahwa sesunggguhnya pendidikan
adalah proses untuk memperoleh jalan untuk belajar. Dalam proses tersebut
dengan sendirinya si pembelajar akan semakin mendekat kepada sang pencipta.
Sehingga saat semakin jauh maka proses pendidikan yang dijalani akan ada
kesalahan didalamnya. Wallahua'lam, nanti saya selami lagi pikiran-pikiran saya
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar