Rabu, 15 Juli 2015

Kodrat Pendidikan (1)

Saat ini saya ada dalam sebuah percabangan pilihan kehidupan, yaitu dalam memilih jalan untuk pendidikan yang akan saya ambil. Di sini saya ingin melakukan refleksi untuk menelisik dan menggali apa arti pendidikan bagi diri saya pribadi.

Pendidikan untuk kancah moderen seperti sekarang ini adalah sekolah formal berdasarkan unit-unit assesment penilaian yang nantinya akan dijadikan tolak ukur dalam bekerja. Konsep pendidikan seperti ini berdasarkan pemahaman saya mulai terbentuk sejak revolusi industri yang ada di Inggris. Tapi apakah konsep pendidikan ini adalah yang terbaik?

Banyak penelitian yang mengangkat tema pendidikan dalam ranah yang tidak berdasarkan konsep seperti di atas. Tapi mengarah kepada pengembangan pribadi dari si didikan dengan konsep yang mungkin agak berbeda, seperti konsep unschooling, homeschool, sekolah alam, dll.

Hingga saat ini saya telah mendapatkan pendidikan yang panjang (sekitar 20 tahun) baik dalam ranah institusi modern dan 'tradisional'. Dalam ranah formal saya telah menempuh sekolah dari Raudlatul Adhfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiya, Sekolah Menengah Atas, Sarjana, hingga Magister. Dalam ranah "tradisional" saya mengenyam pendidikan ngaji Al-quran di guru ngaji desa dan pondok pesantren saat SMA. Selain itu saya juga mendapat pendidikan juga dalam ranah informal terstruktur seperti les dan yang tidak terstruktur dalam ceramah, workshop, seminar, dll.

Bagi saya pendidikan modern dan tradisional serta terstruktur dan tidak terstruktur memiliki tempatnya tersendiri. Tidak ada yang terbaik atau terjelek karena memang tujuan akhir yang dicapai berbeda secara formal. Secara esensi kesemuanya memiliki kesamaan yaitu untuk menambah keilmuan, entah dalam ranah apapun baik agama, budaya, alam, teknologi, dll.

Dari pendidikan-pendidikan tersebut ada banyak yang saya dapatkan. Secara fisik ada beberapa yang memberikan bentuk pengakuan berupa sertifikat atau ijazah. Secara moral pendidikan-pendidikan tersebut membentuk karakter saya hingga seperti ini. Dalam sisi keilmuan saya memperoleh pengetahuan-pengetahuan. Untuk keteladanan saya memperoleh contoh karakter guru, ustadz, dosen, kiai, dll. Dan banyak lagi yang lainnya yang saya peroleh baik yang secara eksplisit terlihat maupun implisit menyertai.

Lalu terbersit sebuah untaian pemikiran yang menyertai semua itu, "Untuk apa?". Akan ada banyak jawaban dalam berbagai sudut pandang akan hal tersebut. Seperti misal dari sudut pandang pekerjaan, kemampuan, peningkatan diri, dan sebagainya.

Muncul pula sesuatu yang menggelitik dari diri saya pribadi. Semakin tinggi saya 'sekolah' semakin banyak yang mengnggap bahwa saya pintar. Padahal saya sendiri merasa jauh dari hal tersebut, banyak sekali kegagalan-kegagalan yang saya alami pada saat saya menjalani dunia sekolah. Sehingga predikat pintar tidaklah pantas kalau disematkan kepada pribadi saya.

Pula ada sesuatu lain yang agaknya menohok untuk saya, yaitu semakin jauhnya saya terhadap budaya saya sendiri. Sebagai orang jawa banyak kebudayaan yang tersemat dalam diri pribadi saya. Tapi seiring berjalannya waktu dalam saya 'sekolah' kebudayaan yang ada dalam diri saya banyak yang luntur. Entah siapa atau apa yang "salah", bisa saja karena saya atau masuknya saya dalam lingkungan budaya berbeda atau apa saya juga kurang tahu. Terkadang karena kebiasaan saya yang ada di kota besar dulu, banyak unggah-ungguh jawa yang "lupa". Juga saat saya di pesantren unggah-ungguh santri banyak yang terlewatkan dalam perilaku saya. Padahal hal yang seperti ini adalah termasuk dalam adab, yang bagi saya posisinya adalah di atasnya keilmuan.

Terkadang juga ada pemikiran yang menyelinap dalam bawah sadar saya, yaitu meremehkan orang yang tidak paham apa yang saya pahami. Hal ini sungguh pemikiran yang sangat sesat bagi diri saya sendiri. Seharusnya dengan pendidikan yang semakin tinggi maka saya seharusnya bisa memahami orang lain, bukan saya yang harus dipahami.


Dari berbagai wacana tersebut apa yang menjadi puncak keaslian dalam proses pendidikan masih belum benar-benar saya pahami secara sejati, sehingga kodrat dari pendidikan masih belum rampung saya selami. Pernah mendapat wacana bahwa sesunggguhnya pendidikan adalah proses untuk memperoleh jalan untuk belajar. Dalam proses tersebut dengan sendirinya si pembelajar akan semakin mendekat kepada sang pencipta. Sehingga saat semakin jauh maka proses pendidikan yang dijalani akan ada kesalahan didalamnya. Wallahua'lam, nanti saya selami lagi pikiran-pikiran saya ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar