Kamis, 18 Juni 2015

Berpendapat Kebenaran

Keilmuan yang ada di dunia ini sangat luas, tidak terbatas dalam satu ranah tertentu saja. Mungkin bisa saja keilmuan dalam satu ranah diinterpolasi dengan yang lain mungkin juga tidak.

Seperti misal dalam keilmuan jaringan komputer ada yang dinamakan jaringan wired (dengan kabel) dan wireless (nirkabel). Dalam jaringan wired data akan ditransfer melalui kabel yang terlihat secara fisik sedangkan dalam jaringan wireless proses perpindahan data melalui media yang kasat mata.

Rabu, 10 Juni 2015

Pengalaman: Tahap Kedua Beasiswa LPDP

Alhamdulillah, hari ini mendapatkan kabar yang menggembirakan. Kabar yang akan menjadi titik perjalanan saya kedepan. Semoga saja ini adalah kabar kebaikan, karena yang tahu baik-buruknya kabar hanyalah yang maha menentukan. Hari ini saya mendapatkan kabar, bahwa saya lolos sebagai penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari pemerintah Indonesia (link).

Sabtu, 06 Juni 2015

Komoditas Waktu

Waktu adalah komoditas paling berharga yang dimiliki oleh setiap orang. Komoditas ini adalah satu-satunya yang tidak dapat dibeli dimanapun. Apabila suda terpakai maka tidak dapat dikembalikan lagi.

Penggunaannya tergantung dari pilihan orang yang menjalaninya. Dapat digunakan untuk kemanfaatan atau sebaliknya. Saat menyianyiakannya tidak ada yang rugi kecuali orang itu sendiri.

Lalu bagaimanakah menggunakan komoditas yang berharga ini?

Hal itu adalah sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh orang yang bersangkutan. Apa yang ingin dicapainya dalam kehidupan. Apakah ingin kehidupan dunia yang mapan, akhirat yang tenang, atau keduanya, kesemuanya dapat dipilih dan dilakukan.

Semoga saja diri kita menjadi orang yang dapat menggunakan komoditas ini dengan bijak. Karena saat komoditas ini sudah habis akan diminta pertanggung-jawaban akan penggunaannya, oleh yang telah menanam modal dalam kehidupan ini.

Jumat, 05 Juni 2015

Perlawanan Sejati

Kehidupan itu selalu dinamis tidak tentu apa yang terjadi esok hari, bisa sama dengan sekarang bisa juga berbeda. Saat ini bisa bergelimang kebaikan tapi besok hari tidak ada yang menjamin bahwa diri tidak akan berkubang dalam kenistaan.

Kehidupan ini dapat diibaratkan sebagai sebuah proses peperangan yang terus menerus. Perang terhadap keburukan dalam diri, dengan musuh nyata hawa nafsu angkara murka. Setiap hari adalah perlawanan dalam peperangan besar kehidupan. Mungkin saat ini kalah tapi tidak menutup kemungkinan besok bisa melawan dengan gegap gempita, pun sebaliknya juga sangat mungkin terjadi.

Saat hari telah berakhir kita dapat melihat apakah perlawanan ini menghasilkan kemenangan ataupun kekalahan. Ketika kemenangan diraih tentu tak lantas jumawa dan lupa daratan karena disitulah terdapat jurang jebakan kesombongan. Pula saat mendapati diri dalam kekalahan tentu tidak lantas berputus asa dalam keterpurukan tapi kita dapat memohon ampunan dan berharap hari esok yang dapat lebih baik.

Karena kehidupan yang tidak menentu ini maka setiap hari dan setiap waktu dianjurkan untuk terus memohon kebaikan. Proses perlawanan sejatinya tidak kita alami sendirian tapi setiap orang yang hidup juga menjalaninya. Saat kita mendapati orang yang berburuk dalam sikap, perlu kita doakan agar dapat memperbaikinya karena sejatinya dia sedang dalam kekalahan melawan syahwat penghasut.

Semoga kita selalu dapat menjalani proses peperangan ini dengan ikhlas dan mendapat kemenangan saat hayat dicabut. Sehingga diri ini dapat menemui penguasa segalanya sebagai pemenang dalam kehidupan.

Selasa, 02 Juni 2015

AyoMondok : Pendidikan karakter keislaman


Konsep pendidikan yang dianggap modern sekarang ini berkembang saat dimulainya industrialisasi. Pada saat itu pendidikan dirancang untuk mencetak para pekerja-pekerja yang akan mengoperasikan mesin. Seiring perkembangan zaman semakin banyak teknologi yang perlu dipelajari dan dasar pendidikan modern pun masih banyak yang belum berubah.

Pendidikan modern sekarang ini seakan melupakan kodrat manusia sebagai hamba dari sang pencipta. Padahal saat kodrat dilupakan maka jati diri kemanusiaannya akan hilang. Sehingga banyak yang memiliki ilmu setinggi langit tapi kehidupannya makin sulit. Ilmu kesehatan berkembang dengan hebat tapi ragam penyakit juga semakin meningkat pesat.

Dalam dunia pesantren diajarkan bahwa segala sesuatu yang ada memiliki tujuan yang satu. Dari makan, sekolah, bekerja, dan sebagainya hanyalah dialektika dalam kehidupan untuk taqorrub kepada sang maha pencipta. Pesantren memberikan pemahaman akan apa sebenarnya yang seharusnya dicari dalam kehidupan. Saat mencari ilmu tidak hanya sekedar mengejar keilmuan belaka (knowledge for the sake of knowledge), tapi menimba ilmu yang nantinya memberikan keberkahan baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Pendidikan dalam pondok pesantren lebih mengedepankan pembangunan kepribadian dalam diri santri-santrinya agar menjadi manusia yang paripurna. Tidak hanya pencapaian dunia yang dicari tapi kepada hakikat pencariannya. Sehingga saat diperoleh suatu pencapaian keilmuan, derajat sosial, harta benda, dll tidak lantas menjadikan pribadi yang lupa daratan tapi sanggup menggunakannya untuk kemaslahatan.

Di pesantren juga tidak hanya pendidikan yang dikedepankan berbagai pengalaman dan cerita juga akan diperoleh, dari cerita yang seru, saru, hingga haru. Seperti pengalaman membantu kawan yang kesurupan, penyembunyian handuk waktu mandi yang bikin muka merah padam, hingga kisah perpisahan yang membuat hati remuk redam. Semua kisah dan pengalaman yang menyertai masa nyantri tentu tidak akan terlupakan dan memiliki tempatnya sendiri dalam menempa pribadi diri.

Dengan masuk pesantren juga terhindar dengan berbagai gejolak arus zaman, seperti misal fenomena sosial: cabe-cabean, terong-terongan, dll. Meski di pondok juga tidak bisa jauh dari cabe dan terong yang diolah jadi sambel terong. Apalagi mondok di daerah peterongan kalau menulis alamat lupa tidak diberi kata terong ya pasti kesasar.