Kemarin saya membeli lisensi Windows original. Sebenarnya keinginan untuk membelinya sudah lama akan tetapi karena keterbatasan finansial saya harus menabung agak lama.
Pula pada waktu-waktu sebelumnya saya masih berstatus mahasiswa di ITS Surabaya. Sebagai mahasiswa di kampus tersebut saya mendapatkan lisensi original untuk sistem operasi dan perangkat pengolah dokumen dari microsoft yang dapat saya gunakan dalam masa studi.
Akan tetapi dalam beberapa bulan terakhir ini saya sudah tidak berstatus mahasiswa lagi. Sehingga lisensi yang saya dapatkan dari kampus tersebut saat ini sudah tidak halal lagi (meskipun sebenarnya masih dapat saya gunakan dengan tanpa ada kendala).
Apabila sistem operasi yang masih ada bisa digunakan tanpa kendala, kenapa masih memilih untuk membeli lisensi yang harganya mahal? (untuk saya). Hal ini mungkin muncul sebagai sebuah pertanyaan yang akan lazim dilontarkan.
Ini kembali kepada sebuah konsep yang saya kenal dan yang saya yakini. Konsep ini dalam lingkup sederhana biasa disebut dengan keberkahan.
Benar adanya kalau aplikasi perangkat lunak yang tidak resmi itu dapat saya gunakan dengan tanpa masalah. akan tetapi apakah apa yang saya kerjakan dengan menggunakan perangkat tersebut akan berkah? hal ini masuk dalam ranah ketenangan hati dan jiwa dalam bekerja.
Sebagai pengajar dan peneliti dalam bidang teknologi informasi, saya sangat intens menggunakan sistem operasi dan perangkat pengolah dokumen. Hal ini menjadi kendala pada saat saya tidak memiliki aplikasi yang halal.
Kita bisa membuat sebuah analogi dengan mengibaratkan petani yang mencangkul di sawah dengan cangkul yang dicuri dari seseorang, apakah hasil pekerjaannya akan berkah untuk dia dan keluarganya? Dengan logika sederhana, saya pribadi meragukan akan keberkahannya bahkan sangat mungkin akan berpengaruh terhadap kehalalan hasil kerjanya.
Konsep keberkahan ini sebenarnya sudah sering ditanamkan dalam diri kita dalam lingkungan, ceramah, nasihat, dll. Akan tetapi seringkali hanya berhenti pada taraf konsep saja. Saat dibenturkan dengan realita finansial seringkali kita mengambil langkah yang tidak sesuai dengan hati nurani.
Terkait dengan rencana untuk untuk membeli lisensi ini sebenarnya sudah muncul sejak lebih dari delapan bulan yang lalu. Pada saat itu saya memiliki target rencana kelulusan pada tahun ini. Dengan target yang seperti itu maka konsekuensi saya adalah setelah lulus sistem operasi yang saya miliki tidak halal lagi dan saya harus membeli lisensi resmi. Akan tetapi karena finansial yang tidak memungkinkan saya harus bersabar untuk menabung terlebih dahulu sedikit demi sedikit tiap bulan.
Sebenarnya disini muncul lagi sebuah pertanyaan kenapa tidak menggunakan perangkat aplikasi open source?
Bagi saya pribadi tidak menjadi persoalan menggunakan perangkat dengan basis terbuka tersebut. Saya dulu pun juga sudah sering mencoba dan menggunakan sistem operasi Linux seperti Ubuntu, Slackware, Archlinux, dll. Akan tetapi sampai saat ini saya masih belum bisa menggunakan perangkat-perangkat tersebut dengan bijak. Saya selalu tergoda untuk mencoba melakukan konfigurasi, instalasi aplikasi, dsb. Padahal hal-hal tersebut bukan merupakan pekerjaan saya yang esensi, dan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya saya kerjakan akhirnya terbengkalai.
Dengan membeli dan menggunakan sistem operasi dan aplikasi dari microsoft, saya bisa lebih menahan godaan dalam 'mengoprek' hal-hal yang tidak esensi (meskipun terkadang masih sering juga).
Terkait bahasan ini saya jadi teringat ungkapan dari pembimbing saya di ITS, "Membajak yang halal itu cuma satu, membajak sawah".
Semoga ke depan kita tidak hanya memaku keberkahan dalam ranah konsep saja tapi sudah masuk kedalam dimensi tindakan. Meski tidak semua yang kita gunakan bisa resmi (saya sendiri pun juga masih sering menggunakan beberapa barang dengan tidak semestinya saat sangat terpaksa), paling tidak kita bisa memulai dari hal-hal yang sekiranya esensi dalam pekerjaan kita. Agar apa yang kita usahakan dan kerjakan tidak menjadi hal yang sia-sia dan mendapat berkah dari yang esa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar