Kamis, 28 Mei 2015

Bersungguh dalam Kesungguhan Doa

Dalam mencapai suatu kebaikan seyogyanya setiap orang melalui tahapan ikhtiar dan doa. Keduanya tidak bisa lepas antara satu sama lain. Berbagai riwayat dan ayat telah menjelaskan keutamaan doa, karena doa adalah ungkapan yang sangat dasar dari mahluk terhadap penciptanya.

Berbagai tata cara doa juga telah dijelaskan, tapi yang paling mendasar adalah agar melakukannya dengan kesungguhan yang sangat sungguh. Bagaimanakah kesungguhan berdoa? yaitu dengan mengejawantahkannya dalam usaha. Misal, saat diri ini menginginkan penguasaan terhadap suatu keilmuan maka wajib berdoa untuk meminta pemahaman atasnya. Setelah itu melakukan usaha dengan membaca, mewacana, menerapkan hingga menguasainya.

Ada berbagai macam konteks dalam berdoa, salah satunya adalah dengan meminta jalan yang terbaik untuk dititi. Dalam doa yang seperti ini permintaan dikhususkan kepada keberkahan dan kebaikan yang terbaik untuk dimasa depan sesuai dengan garisan sang pencipta. Seringkali garisan yang dipandang mahluk terbatas dalam satu sisi karena memang berkehidupan dengan penuh batasan, sedangkan kebaikan yang hakiki hanya diketahui oleh yang tidak memiliki batas.

Dari konteks doa yang umum lalu dikhususkan dengan usaha. Dalam pemahaman ini, maka usaha juga termasuk doa dalam ranah perbuatan. Perbuatan adalah yang bisa dilakukan olah mahluk dan apabila belum memberikan hasil yang sesuai tidak usah berputus asa, karena keputusan hasil akhir tetap berada pada sang penguasa hidup yang tahu jalan terbaik.

Semoga saja doa kebaikan dari diri ini tidak pernah lekang hingga akhir hayat. Serta usaha yang mendapatkan berkah selalu dapat dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Rabu, 27 Mei 2015

Melepas Sangkaan

من عرف نفسه فقد عرف ربه 
Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal tuhannya 
 

Dalam berkehidupan setiap orang akan mendapatkan berbagai predikat. Tapi sejatinya dirinya tidak selalu terpaku terhadap predikat tersebut. Seringkali predikat itu hanyalah pemberian orang lain untuk dirinya. Sedangkan diri sendiri adalah yang mengetahui apakah predikat tersebut pantas disandang atau tidak.

Seseorang yang menggantungkan pribadinya terhadap sangkaan orang lain akan sulit dalam mengenali jati dirinya sendiri. Pribadi yang membebaskan sukma diri dari prasangka adalah yang bebas sesungguhnya sehingga dapat meniti jalan untuk mengenali dirinya. Saat pribadi masih terbelenggu oleh anggapan orang lain maka sebenarnya dia belum bebas dalam menelusuri dirinya yang seutuhnya.

Pembebasan dari prasangka orang lain tentu bukan lalu lepas dari norma sosial bermasyarakat. Tapi lebih kepada melepaskan belenggu pikiran bahwa apa yang menjadi diri sejati merupakan pengaruh dari orang lain. Kehidupan yang menjalani adalah diri sendiri bukan orang lain, sehingga sangkaan orang sebenarnya tidak memiliki arti yang berharga.

Bisa saja orang lain menganggap diri sebagai pribadi yang baik dengan berbagai predikat yang mereka berikan. Tapi sejatinya diri ini tahu saat yang mereka sangkakan belum menjadi padanan pribadi yang seutuhnya. Tentu saja eloknya kita hiraukan sebagaiman pantasnya dan anggap sebagai doa untuk kebaikan.

Saat ada sangkaan buruk yang ditimpakan kepada diri, juga tidak serta merta akan menghilangkan kemuliaan apabila memang tidak sepadan. Tapi tentu tidak lantas tanpa perenungan akan kemungkinan adanya kebenaran didalamnya. Dengan memandang diri secara jujur mungkin kita akan menemukan celah perbaikan dari sangkaan.

Dengan melepas semua sangkaan yang baik atau buruk maka pribadi ini dapat mengenali apa yang menjadi kebenaran. Lalu dalam keadaan itu mulai bisa  mengenali siapa yang menjadi pencipta kebenaran yang menjadi pribadi makhluk ini.

Selasa, 26 Mei 2015

Berproses dalam Kebaikan

Terkadang dalam suatu hal kita menginginkan hasil instan dari yang dilakukan. Ada beberapa hal yang memang dapat seperti itu, tapi seringkali banyak hal harus dijalani prosesnya untuk mendapatkan hasil. Proses pun bisa panjang bisa pendek, menyenangkan atau tidak, dll.

Seperti saat sakit semua orang pasti ingin kesembuhan maka melakukan pengobatan. Tapi dengan pengobatan tersebut tidak serta merta memberikan kesembuhan. Pengobatan adalah proses yang harus dilalui untuk mencapai sembuh dari sakit. Sembuh pun sebenarnya bukan karena pengobatan melainkan karunia dari yang kuasa, karena bisa juga setelah mengalami proses belum mendapat karunia maka hasil tidak akan didapat sehingga sejatinya yang diharap dari proses adalah karunia dari sang pemiliki kehidupan.

Proses merupakan hal yang harus dilalui setiap orang yang berikhtiar untuk mencapai suatu kondisi. Ikhtiar merupakan usaha yang tidak dapat diingkari dalam nalar yang terbatas. Seringkali saat melihat suatu keadaan, seseorang, peristiwa, dll diri ini hanya melihat hasil akhirnya saja tapi melupakan ikhtiar dan proses yang harus dijalani.

Kadang proses juga tidak tentu mendapatkan hasil yang diinginkan. Bisa berbeda jauh atau diganti dengan yang lain. Tapi saat ditelisik dan direnungkan yang terpenting adalah proses yang dilalui. Karena dari sanalah diperoleh pelajaran dan keberkahan yang ingin diraih.

Semoga saja diri kita ini terus berikhtiar dan berproses dalam kebaikan. Entah apa yang dihasilkan sesuai dengan keinginan atau tidak, asalkan tetap dalam keberkahan.

Minggu, 24 Mei 2015

Berpura-pura yang Menjadi Doa

Fake it till you make it
Fake it till you become it

Pernah membaca beberapa artikel psikologi manusia, dan dua ungkapan tersebut sering dituliskan. Dua ungkapan tersebut memiliki kaidah arti kurang lebih: berpura-puralah dalam suatu hal sampai kamu menguasainya.

Berpura-pura sering kali diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik. Tapi terkadang bila dilihat pada sudut pandang lain dan dalam kondisi yang tepat berpura-pura merupakan sebuah tindakan yang sangat positif.

Saat kita berpura-pura untuk hal tidak baik maka hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan. Misal dari hal ini adalah: berpura-pura menjadi orang lain untuk menipu, berpura-pura sakit agar tidak dibebani, berpura-pura bisa agar disegani, dll.

Dalam sudut pandang lain terkadang berpura-pura seakan memang sangat diperlukan. Seperti yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pribadi, maka menurut hemat saya sepertinya wajib untuk dilakukan, misal: Saat takut berpura-pura berani, saat minder berpura-pura percaya diri, saat gundah berpura-pura tegar. Hal-hal ini tentunya dikhususkan untuk mengarah ke diri pribadi. Agar pribadi yang belum berkualitas dapat menapaki jalan peningkatan diri.

Berpura-pura disini mungkin dapat diibaratkan sebagai doa dan harapan. Karena tidak semua doa itu berupa ucapan, perbuatan pun bisa masuk sebagai doa yang dalam bentuk kenyataan. Dan berpura-pura dalam kepribadian yang lebih baik menjadi doa agar diri yang belum menggapai kualitas tersebut suatu saat dapat mencapainya.

Sabtu, 23 Mei 2015

Pengejawantahan Pikiran

Akal pikiran merupakan anugrah dari tuhan, anugrah yang seringkali dilupakan. Setiap orang memilikinya dan dapat membedakan yang baik serta yang buruk dengan pikirannya. Setiap orang juga pasti memiliki pola yang berbeda dalam menggunakannya.

Pikiran seseorang dapat mengejawantah dalam berbagai bentuk, mulai dari perilaku, gagasan, tulisan, cakapan, dll. Tidak ada yang sama dalam setiap apa yang dihasilkan, karena pikiran itu unik yang tak bisa disamakan. Mungkin terkadang ada persamaan dalam tafsiran tapi tidak mungkin secara keseluruhan.

Disini saya membuat tulisan hasil proses tafsiran saya sendiri akan proses kehidupan dan pelajaran yang pernah saya pelajari dan jalani. Proses tafsiran yang saya olah dengan pikiran saya yang terbatas. Mungkin salah atau bisa sebaliknya tapi sejatinya yang saya inginkan adalah jalan yang menuju kebenaran.

Ada yang bertanya dan berkomentar kenapa yang saya tulis menggunakan bahasa yang tinggi atau seakan menunjukkan kalau saya orang yang mulia. Dalam tulisan ini mungkin sedikit saya tegaskan bahwa saya masih sangat jauh dari kebaikan yang saya inginkan. Yang saya tuliskan adalah hal-hal kebaikan yang ingin saya capai dalam kehidupan. Saya sendiri belum paripurna dalam menjalankannya.

Sering saya menyulam kata yang saya dapat dari berbagai wacana, pula ada yang saya olah dari pemahaman saya. Sehingga terkadang apa yang saya tulis akan sedikit sulit dipahamai bahkan oleh saya sendiri. Tulisan saya adalah proses saya dalam memahami kehidupan dan bagaimana meniti jalan yang menuju kebaikan.

Sebenarnya agak kurang tepat apabila menyebut kata-kata yang saya rangkai sebagai tulisan. Karena tulisan bagi saya adalah karya yang mengalamai proses pembuatan konsep, perbaikan, umpan-balik dari orang lain, lalu perbaikan lagi, hingga akhirnya diterbitkan dalam medianya. Sedangkan pikiran yang sering saya tuangkan sebagian besar tidak melalui proses-proses tersebut. Jadi tidak salah saat ada seorang sahabat yang mengatakan saya ini kebanyakan omong kosong, atau dalam bahasa jawa "nggedabrus".

Tapi saya selalu berusaha agar "nggedabrus" saya ini selalu dalam kebaikan. Pun bila tidak dapat, saya berharap tidak sampai membuat sesuatu yang menyakitkan. Harapan sejati saya adalah suatu saat "nggedabrus-nggedabrus" ini dapat bermanfaat paling tidak untuk diri saya pribadi, meski bila orang lain mendapatkan manfaat saya juga akan sangat senang sekali.

Mungkin hal tersebut terkesan sedikit egois tapi itulah kenyataanya. Tidak mungkin saya memberikan kemanfaatan kepada semua orang yang ada, sehingga keutamaan dari tulisan saya adalah pengejawantahan pikiran saya dalam menghadapi kehidupan. Pengejawantahan yang nantinya akan saya gunakan sebagai peta untuk menelusuri perjalanan ke depan dan napak tilas ke belakang.

Kamis, 21 Mei 2015

Biaya Kesuksesan

"Jer besuki mowo bewo" - Kesuksesan memerlukan pengorbanan

Setiap orang memiliki keinginan untuk menggapai kesuksesan dalam hidupnya. Kesuksesan sendiri memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda pula. Ada yang mengaitkannya dengan materi fisik pula ada yang mengikatnya dengan hal yang batin.

Apapun pandangan terhadap kesuksesan ada kesamaan tersendiri yang dapat diperhatikan, yaitu tidak bisa didapatkan dengan gratis atau tanpa biaya. Esensi biaya adalah apa yang sesorang korbankan untuk mendapatkan hal yang diinginkannya. Biaya disini bukan hanya dalam arti uang, tapi juga dalam arti yang lain seperti waktu, perhatian, kerja keras, dll.

Untuk mendapatkan kesuksesan dengan keunggulan pula tidak ada yang bisa didapat dengan tiba-tiba semua memiliki proses. Sebagaimana investasi dalam sebuah usaha, biaya yang dijadikan modal harus melalui proses yang tidak mudah agar berkembang. Biaya yang dibayar untuk mencapai kesuksesan tidak hanya dibayar tapi perlu diolah agar menjadi kesuksesan yang diinginkan dapat diraih.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian
Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Sebuah mutiara yang ejawantahnya yang tidak jauh berbeda. Semua hal yang ringan dan menyenangkan harus dilalui dengan yang berat dan menyusahkan dahulu. Tanpanya maka yang ada hanyalah kelenaan yang semu.

Semoga saja diri ini kuat dalam bersakit dan berusaha untuk membayar apa yang memang harus dibayar. Mengorbankan apa yang harus untuk masa depan yang memang ingin digapai. Semuanya tentu dalam keberkahan dari sang pencipta semesta alam.

Rabu, 20 Mei 2015

Berbaik dalam Salah

Tidak bisa disangkal dalam berkehidupan kita akan mengalami masa naik dan turun. Tetapi seringkali setiap tahapan tidak memiliki sejati yang sama dengan pandangan kita yang terbatas. Terkadang hal yang kita pandang sebagai kenaikan malah sejatinya menjatuhkan, begitu pula sebaliknya.

Penyikapan kita terhadap apa yang menjadi aral kehidupan, gemerlap kesuksesan, sesaknya kekecawaan, dan sebagainya adalah yang menjadi inti dari berproses dalam berkehidupan. Kehidupan seperti apa yang kita pilih untuk jalani adalah sepenuhnya pilihan diri pribadi.

Kesenangan sesaat terkadang menyilaukan mata dan melenakan apa yang seharusnya menjadi tujuan, Tapi tentunya tidak menghiraukannya adalah tindakan yang kurang tepat, karena permata kehidupan ada disana. Kekecewaan pula terkadang menyesakkan dan memberikan kepahitan yang sulit untuk dilupakan, tapi saat ditelaah akan banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran.

Menempatkan kesenangan dan kekecewaan sejatinya adalah berada dalam diri pribadi. Hal yang sulit bagi seseorang dapat menjadi hal yang menyenangkan untuk orang yang berbeda. Melihat hal yang mengecewakan juga sangat bergantung dari sudut pandang mana dan siapa yang melihat.

Seperti pemisalan, seorang murid yang tidak berhasil dalam belajarnya akan mengecewakan pengajarnya. Tapi kekecewaan ini tentunya berasal dari berbagai sebab. Bisa pengajar yang belum berkemampuan baik dalam mengajar dan mengangkat muridnya. Atau bisa juga muridnya yang memang tak acuh terhadap proses belajarnya. Berbagai sudut pandang dapat diambil tapi segalanya sejatinya kembali lagi kepada pribadi yang melihat.

Menempatkan kesalahan dan kekecewaan kepada orang lain adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tetapi hal ini rawan dalam menjadikan diri sebagai pribadi yang tidak berkembang dalam kehidupan. Dengan menempatkan kesalahan dan kekecewaan terhadap diri sendiri maka kita akan dapat melakukan introspeksi apa yang seharusnya dilakukan dan tidak. Setelah melakukannya maka kita dapat melakukan langkah perbaikan dan memafkan kesalahan serta mengobati kekecewaan.

Selasa, 19 Mei 2015

Kedewasaan Diri

Kedewasaan adalah proses perjalanan dari setiap orang. Seseorang dikatakan dewasa saat dapat mengambil keputusan berprilaku yang sesuai. Umur belum tentu menjadi tolak ukur baku dalam menilai kedewasaan, meski dalam keadaan tertentu memang harus diacu.

Berprilaku selayaknya dalam waktu-waktu berbeda merupakan tanda dicapainya kedewasaan pada diri seseorang.

Kehidupan tidak memiliki kepastian, terkadang ada naik juga ada turun. Bersikap selayaknya dalam tiap tahapan kehidupan adalah proses bertahap menuju kedewasaan.

Saat kehidupan bernaik bersikap wajar dan mensyukuri apa yang didapat adalah proses. Saat kehidupan berturun tetap tabah dan tidak putus asa adalah proses juga.

Pendewasaan adalah jalan yang pasti dijalani semua orang. Tinggal mau menitinya dengan layak atau tidak. Saat meniti dengan layak maka kedewasaan yang paripurna akan didapat. Saat menjalani dengan tidak layak maka umur tua saja yang didapat tapi lepas dari kedewasaan.

Semoga saja diri sanubari ini bisa meniti dengan layak jalan menuju kedewasaan, sehingga dapat menjadi manusia yang paripurna dalam menyikapi kehidupan.

Jumat, 08 Mei 2015

Kanuragan Teknologi

Sebagai kuli digital, saya sering membaca wacana-wacana yang disajikan oleh berbagai programmer di dunia maya, mulai dari yang maqomnya masih syariat sampai yang haqiqat. Saya sendiri masih level syariat bahkan barusan kemarin syahadat itupun juga masih tergagap. Saat berdiskusi dengan programmer yang maqomnya sudah sampai ma'rifat banyak plonga-plongo, tapi alhamdulillah seringnya bertemu dengan yang memiliki rasa berbagi yang tinggi.