Halaman
Kamis, 28 Mei 2015
Bersungguh dalam Kesungguhan Doa
Rabu, 27 Mei 2015
Melepas Sangkaan
من عرف نفسه فقد عرف ربه
Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal tuhannya
Dalam berkehidupan setiap orang akan mendapatkan berbagai predikat. Tapi sejatinya dirinya tidak selalu terpaku terhadap predikat tersebut. Seringkali predikat itu hanyalah pemberian orang lain untuk dirinya. Sedangkan diri sendiri adalah yang mengetahui apakah predikat tersebut pantas disandang atau tidak.Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal tuhannya
Seseorang yang menggantungkan pribadinya terhadap sangkaan orang lain akan sulit dalam mengenali jati dirinya sendiri. Pribadi yang membebaskan sukma diri dari prasangka adalah yang bebas sesungguhnya sehingga dapat meniti jalan untuk mengenali dirinya. Saat pribadi masih terbelenggu oleh anggapan orang lain maka sebenarnya dia belum bebas dalam menelusuri dirinya yang seutuhnya.
Pembebasan dari prasangka orang lain tentu bukan lalu lepas dari norma sosial bermasyarakat. Tapi lebih kepada melepaskan belenggu pikiran bahwa apa yang menjadi diri sejati merupakan pengaruh dari orang lain. Kehidupan yang menjalani adalah diri sendiri bukan orang lain, sehingga sangkaan orang sebenarnya tidak memiliki arti yang berharga.
Bisa saja orang lain menganggap diri sebagai pribadi yang baik dengan berbagai predikat yang mereka berikan. Tapi sejatinya diri ini tahu saat yang mereka sangkakan belum menjadi padanan pribadi yang seutuhnya. Tentu saja eloknya kita hiraukan sebagaiman pantasnya dan anggap sebagai doa untuk kebaikan.
Saat ada sangkaan buruk yang ditimpakan kepada diri, juga tidak serta merta akan menghilangkan kemuliaan apabila memang tidak sepadan. Tapi tentu tidak lantas tanpa perenungan akan kemungkinan adanya kebenaran didalamnya. Dengan memandang diri secara jujur mungkin kita akan menemukan celah perbaikan dari sangkaan.
Dengan melepas semua sangkaan yang baik atau buruk maka pribadi ini dapat mengenali apa yang menjadi kebenaran. Lalu dalam keadaan itu mulai bisa mengenali siapa yang menjadi pencipta kebenaran yang menjadi pribadi makhluk ini.
Selasa, 26 Mei 2015
Berproses dalam Kebaikan
Seperti saat sakit semua orang pasti ingin kesembuhan maka melakukan pengobatan. Tapi dengan pengobatan tersebut tidak serta merta memberikan kesembuhan. Pengobatan adalah proses yang harus dilalui untuk mencapai sembuh dari sakit. Sembuh pun sebenarnya bukan karena pengobatan melainkan karunia dari yang kuasa, karena bisa juga setelah mengalami proses belum mendapat karunia maka hasil tidak akan didapat sehingga sejatinya yang diharap dari proses adalah karunia dari sang pemiliki kehidupan.
Kadang proses juga tidak tentu mendapatkan hasil yang diinginkan. Bisa berbeda jauh atau diganti dengan yang lain. Tapi saat ditelisik dan direnungkan yang terpenting adalah proses yang dilalui. Karena dari sanalah diperoleh pelajaran dan keberkahan yang ingin diraih.
Semoga saja diri kita ini terus berikhtiar dan berproses dalam kebaikan. Entah apa yang dihasilkan sesuai dengan keinginan atau tidak, asalkan tetap dalam keberkahan.
Minggu, 24 Mei 2015
Berpura-pura yang Menjadi Doa
Fake it till you make it
Fake it till you become it
Sabtu, 23 Mei 2015
Pengejawantahan Pikiran
Kamis, 21 Mei 2015
Biaya Kesuksesan
"Jer besuki mowo bewo" - Kesuksesan memerlukan pengorbanan
Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian
Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian
Sebuah mutiara yang ejawantahnya yang tidak jauh berbeda. Semua hal yang ringan dan menyenangkan harus dilalui dengan yang berat dan menyusahkan dahulu. Tanpanya maka yang ada hanyalah kelenaan yang semu.
Semoga saja diri ini kuat dalam bersakit dan berusaha untuk membayar apa yang memang harus dibayar. Mengorbankan apa yang harus untuk masa depan yang memang ingin digapai. Semuanya tentu dalam keberkahan dari sang pencipta semesta alam.
Rabu, 20 Mei 2015
Berbaik dalam Salah
Penyikapan kita terhadap apa yang menjadi aral kehidupan, gemerlap kesuksesan, sesaknya kekecawaan, dan sebagainya adalah yang menjadi inti dari berproses dalam berkehidupan. Kehidupan seperti apa yang kita pilih untuk jalani adalah sepenuhnya pilihan diri pribadi.
Kesenangan sesaat terkadang menyilaukan mata dan melenakan apa yang seharusnya menjadi tujuan, Tapi tentunya tidak menghiraukannya adalah tindakan yang kurang tepat, karena permata kehidupan ada disana. Kekecewaan pula terkadang menyesakkan dan memberikan kepahitan yang sulit untuk dilupakan, tapi saat ditelaah akan banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran.
Menempatkan kesenangan dan kekecewaan sejatinya adalah berada dalam diri pribadi. Hal yang sulit bagi seseorang dapat menjadi hal yang menyenangkan untuk orang yang berbeda. Melihat hal yang mengecewakan juga sangat bergantung dari sudut pandang mana dan siapa yang melihat.
Seperti pemisalan, seorang murid yang tidak berhasil dalam belajarnya akan mengecewakan pengajarnya. Tapi kekecewaan ini tentunya berasal dari berbagai sebab. Bisa pengajar yang belum berkemampuan baik dalam mengajar dan mengangkat muridnya. Atau bisa juga muridnya yang memang tak acuh terhadap proses belajarnya. Berbagai sudut pandang dapat diambil tapi segalanya sejatinya kembali lagi kepada pribadi yang melihat.
Menempatkan kesalahan dan kekecewaan kepada orang lain adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tetapi hal ini rawan dalam menjadikan diri sebagai pribadi yang tidak berkembang dalam kehidupan. Dengan menempatkan kesalahan dan kekecewaan terhadap diri sendiri maka kita akan dapat melakukan introspeksi apa yang seharusnya dilakukan dan tidak. Setelah melakukannya maka kita dapat melakukan langkah perbaikan dan memafkan kesalahan serta mengobati kekecewaan.
Selasa, 19 Mei 2015
Kedewasaan Diri
Kedewasaan adalah proses perjalanan dari setiap orang. Seseorang dikatakan dewasa saat dapat mengambil keputusan berprilaku yang sesuai. Umur belum tentu menjadi tolak ukur baku dalam menilai kedewasaan, meski dalam keadaan tertentu memang harus diacu.
Berprilaku selayaknya dalam waktu-waktu berbeda merupakan tanda dicapainya kedewasaan pada diri seseorang.
Kehidupan tidak memiliki kepastian, terkadang ada naik juga ada turun. Bersikap selayaknya dalam tiap tahapan kehidupan adalah proses bertahap menuju kedewasaan.
Saat kehidupan bernaik bersikap wajar dan mensyukuri apa yang didapat adalah proses. Saat kehidupan berturun tetap tabah dan tidak putus asa adalah proses juga.
Pendewasaan adalah jalan yang pasti dijalani semua orang. Tinggal mau menitinya dengan layak atau tidak. Saat meniti dengan layak maka kedewasaan yang paripurna akan didapat. Saat menjalani dengan tidak layak maka umur tua saja yang didapat tapi lepas dari kedewasaan.
Semoga saja diri sanubari ini bisa meniti dengan layak jalan menuju kedewasaan, sehingga dapat menjadi manusia yang paripurna dalam menyikapi kehidupan.